tulisan
ini saya buat untuk para anak-anak indonesia dan dunia yang ada di luar
sana, yang ingin mengetahui betapa luarbiasanya orangtua kita. Saya
hanya berharap tulisan ini bisa menginspirasipi bahwa orangtua kita itu
sangat luarbiasa karena, untuk menjadi seorang Ayah yang terbaik untuk
anak-anaknya dan menjadi suami terhebat kesayangan istri.nya(mamah)
Menjadi ayah pendukung ASI adalah salah satu syarat mutlak untuk
mencapai 2 hal tersebut, mau tahu apa hubungannya?baca terus tulisan
saya sampai habis yah =)
Mungkin kalian masih ingat dibenak kalian ketika orangtuamu menceritakan saat-saat kalian masih kecil atau bahkan saat-saat belum lahir. Yupp setahun yang lalu mamih menceritakan kepada saya dan kembaran saya (hilda amalia sa'bani) bagaimana saat-saat mamih dan papah saya mengetahui bahwa mereka akan memiliki keturunan. Teriakan bahagia dan haru masih sangat jelas dikepala mereka di satu sisi ada perasaan tegang dan khawatir mengetahui bahwa mereka akan menjadi seorang ayah dan ibu, saya rasa semua orangtua pasti merasakan hal yang sama. Khawatir akan mampu atau tidak mereka menjadi seorang ayah dan ibu yang baik untuk anaknya. Setelah mereka mengetahui kehamilan tersebut, Tuhan seolah tidak berhenti memberi kejutan pada orangtuaku, saat USG dibulan ketiga hasilnya menunjukkan ada 2 janin dalam kandungan mamih saya. Terpana, tatapan kaget, dan mata melotot adalah respon yang pertama kali mereka berdua lakukan. Senang yang luar biasa dan khawatir juga semakin kuat pastinya, tapi perasaan itu yang memicu untuk bertekad memberikan yang terbaik buat kami(anak-anaknya)

Masa-masa kehamilan adalah masa paling romantis buat mereka (eh tapi kata mamih saya, papah itu ga pernah seromantis itu hehe :P). mamih saya adalah wanita terhebat, dengan membawa 2 janin dia berhasil membawa kehamilannya sampai minggu ke-37 (biasanya untuk anak kembar umur kehamilan hanya mencapai minggu ke 30-32) dengan total berat bayi dalam kandungnya adalah 4,2 kg (kebayangkan besarnya perut mamih saya saat itu, ( I am very proud of you, my mom!). Hari demi hari mereka lewati dengan belajar banyak hal mengenai kehamilan, kelahiran, parenting,dan masa menyusui. Mereka berdua sudah sepakat bahwa akan memberikan full ASI untuk kami. Mereka memahami bahwa memberikan ASI itu butuh komitmen tinggi dari sang ayah dan ibu. Dari belajar itu juga, Mereka jadi banyak paham mengapa orang tua yang tidak memberikan ASI full buat anak-anaknya karena butuh komitmen dan pengorbanan yang tinggi bagi kedua orang tua, terutama untuk sang ibu. Banyak godaan yang membuat mereka ragu untuk memberikan ASI apalagi mereka akan punya anak langsung dua. Tapi mereka berdua tetap bergeming dengan tetap berkomitmen untuk memberikan ASI ekslusif buat kami berdua
Singkat cerita, waktu persalinan pun tiba, mereka memilih rumah bersalin yang pro ASI di daerah Jakarta. melalui proses normal alhasil pada tanggal 08 maret 1991 telah lahir kami yaitu Hilda Amalia Sa'bani (Hilda, 2.2kg) dan saya Dinda Amalia Sa'bani (Dinda 2,0kg). Setelah kelahiran masa-masa berat tapi bahagiapun dimulai. Dimana masa berat pertama adalah ketika saya, Dinda Amalia Sa'bani (mengalami kesulitan bernapas karena paru-parunya belum sempurna), dinda tidak bisa melalui proses IMD(Inisiasi Menyusui Dini)karena saya harus langsung dibawa ke ruang NICU. Sedihnya luar biasa, buat mereka karena merasa tidak adil kepada saya dikarenakan Hilda bisa IMD sedangkan sayia tidak. Tapi mereka juga sadar ini semua untuk kebaikan saya juga. Dengan keyakinan mereka untuk tetap berusaha semaksimal mungkin supaya saya harus bisa ASI.
Hari-hari awal pasca kelahiran adalah masa terberat buat mamih saya, sakit bekas operasi tentunya sangat menyulitkan dia untuk mengeluarkan ASI. Perlu diketahui juga buat teman-teman semuanya bahwa sebenarnya yang menyakitkan itu bukan hanya pada proses melahirkannya (baik cesar atau normal) tetapi pasca melahirkan itu jauh lebih berat+menyakitkan buat sang ibu. Hal ini ditambah berat, karena mamih saya harus memberi ASI pada 2 anak sekaligus. Di hari pertama Hilda sudah bisa merasakan minum langsung dari mamih, tetapi saya harus di NICU selama 3 hari, mau tidak mau mamih saya harus memompa ASI dengan bantuan breast-pump yang tentu saja sakitnya luar biasa ditambah dia masih dalam proses penyembuhan pasca oprasi. Lalu sebagai ayah, papah hanya bisa mensupport mamih dan terus berada disamping mamih saat itu. Apalagi saat itu ayah saya hanya di beri cuti 3 hari saja tetapi ayah saya perpanjang menjadi seminggu, kata papah, papah bilang ah bodo amat sama Si Bos, jadi ayah dan suami yang baik itu wajib !Jadi Pegawai yang baik itu sunnah :P haha ). Setetes demi setetes ASI bisa dihasilkan oleh mamih saya dengan diiringi rintihan-rintihan kecil darinya dan Alhamdulillah saya(Dinda) akhirmya bisa merasakan beberapa tetes ASI mamih melalui medium pipet. setelah 3 hari di NICU, kondisi saya sudah stabil sehingga dan bisa keluar bertemu dengan mamih. oia mereka bilang sedih membayangkan saya sendirian berada di ruang NICU selama 3 hari. Cobaan nyatanya belum mau berhenti, setelah saya keluar dr NICU Hilda ternyata kuning (bilirubinnya tinggi, kata dokter ini normal untuk bayi yang lahir dibawah 3 kg) cara menurunkan bilirubinnya hanya dengan pemberian ASI. Semakin banyak ASI yang diminum semakin cepat bilirubin itu dibuang melalui BAB dan ditambah dengan dijemur juga membantu proses penurunan bilirubin, jadi jangan dikasih susu formula ya kalau bayi kuning

Pasca keluar dari rumah sakit adalah saatnya sang ayah atau papah saya berperan besar buat imamih dan kami. Saat di Rumah Sakit ada suster-suster yang melayani segala kebutuhan mamihi disana. Sedangkan di rumah cuma papah dan mamih dan dibantu 1 suster saja. Orangtua saya berprinsip pemberian ASI hanya bisa dilakukan oleh istri sehingga tugas lainnya sebisa mungkin harus mampu papah saya lakukan sendiri seprti mengganti popok, membersihkan BAB, mengganti baju, memberikan ASI Perah jika mereka minta susu berbarengan (maklum kembar dan di bulan awal belum bisa tandem nursing), lau papah saya nyuapin mamih makan karena mamih seakan tidak ada waktu untuk makan karenamamih saya harus benar-benar memberikan FULL ASI hampir tiap satu sejam sekali!satu kenyang satu lagi haus begitu terus( hihi seru ya), kata papah saya bermain dengan kami sebelum dan setelah pulang kantor, dan merelakan waktu tidur untuk terjaga di malam hari alhasil di kantor tidak bisa konsen sama sekali, sekali lagi jadi ayah dan suami yang baik itu wajib Bos!Jadi Pegawai yang baik itu sunnah=). Banyak hal yang sudah tentu harus mereka korbankan, kesenangan-kesenangan saat masih berdua seperti nonton bioskop, ngopi di café, kumpul dengan teman-teman harus mereka kesampingkan bahkan papah saya sampai-sampai saat dirumah tidak lagi menyentuh pekerjaan kantor, total waktunya papah lakukan di rumah untuk digunakan menjadi suami dan ayah yamg baik. Semua inimereka lakukan dan jalankan dengan penuh kesabaran dan kebahagiaan rasa bosan dan stress pasti ada tinggal bagaimana mereka berdua saling mendukung dan menjadi penenang satu sama lain. Peran ayah terbesar saat itu adalah ketika menjaga emosi mamih supaya lebih tabil, senang, dan tenag. Karena ASI tidak akan keluar jika mamih stress, kesel, sakit, dsb jadi disinilah peranayah untuk selalu membuat mamih happy dan bahagia.

Alhamdulillah, setelah melalui masa-masa cukup berat di 2 bulan pertama sekarang kami berdua sudah tumbuh menjadi anak yang sehat berkat lancarnya ASI yang keluar dari sang ibu yang sangat luar biasa. sampai saat ini kami menginjak umur 20 tahun dengan berat badan 47kg(Hilda) dan saya(50kg) Sungguh pencapaian yang luar biasa bagi mereka mengingat kami lahir dengan berat dibawah normal dan sekarang beratnya normal untuk anak seumuran kami hehe .. ini semua berkat ASI mamih. Mereka sadar bahwa tekad mereka bukan perkara gampang butuh pengorbanan dan komitmen tinggi. mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kami berdua. Mereka selalu berprinsip seperi itu karena merekai sadar bahwa seorang anak itu hanya sebentar dalam genggaman orang tuanya-mungkin hanya 25% dari masa hidupnya-setelah itu lepas menjadi mansuia mandiri untuk menjalani hidupnya, jadi apakah di waktu yang singkat ini kita sebagai orang tua tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya?Dan perlu diingat bahwa perkara ASI bukan hanya urusan satu keluarga dengan keturunannya tetapi ini menyangkut masa depan generasi bangsa selanjutnyai. Pemberian ASI terbukti mengurangi resiko anak terhadap penyakit-penyakit mematikan (diabetes, kanker, dsb) dan kecerdasan anak banyak di kontribusi oleh ASI. Jadi saya bisa katakan bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan kita para ayah-ayah baru, masa depan dimana disanalah anak-anak kita yang cerdas, sehat, dan kuat yang memimpin bangsa ini di era persaingan global bukan malah anak-anak yang pesakitan dan tidak cerdas sehingga ditindas oleh bangsa lain.

dan sekarang kami berdua tumbuh besar menjadi seorang gadis cantik yang dilahirkan dari orangtua yang luar biasa :)

salam penuh cinta dari kami buah hati mamih dan papap
Hilda dan Dinda
(^_^)b
Mungkin kalian masih ingat dibenak kalian ketika orangtuamu menceritakan saat-saat kalian masih kecil atau bahkan saat-saat belum lahir. Yupp setahun yang lalu mamih menceritakan kepada saya dan kembaran saya (hilda amalia sa'bani) bagaimana saat-saat mamih dan papah saya mengetahui bahwa mereka akan memiliki keturunan. Teriakan bahagia dan haru masih sangat jelas dikepala mereka di satu sisi ada perasaan tegang dan khawatir mengetahui bahwa mereka akan menjadi seorang ayah dan ibu, saya rasa semua orangtua pasti merasakan hal yang sama. Khawatir akan mampu atau tidak mereka menjadi seorang ayah dan ibu yang baik untuk anaknya. Setelah mereka mengetahui kehamilan tersebut, Tuhan seolah tidak berhenti memberi kejutan pada orangtuaku, saat USG dibulan ketiga hasilnya menunjukkan ada 2 janin dalam kandungan mamih saya. Terpana, tatapan kaget, dan mata melotot adalah respon yang pertama kali mereka berdua lakukan. Senang yang luar biasa dan khawatir juga semakin kuat pastinya, tapi perasaan itu yang memicu untuk bertekad memberikan yang terbaik buat kami(anak-anaknya)
Masa-masa kehamilan adalah masa paling romantis buat mereka (eh tapi kata mamih saya, papah itu ga pernah seromantis itu hehe :P). mamih saya adalah wanita terhebat, dengan membawa 2 janin dia berhasil membawa kehamilannya sampai minggu ke-37 (biasanya untuk anak kembar umur kehamilan hanya mencapai minggu ke 30-32) dengan total berat bayi dalam kandungnya adalah 4,2 kg (kebayangkan besarnya perut mamih saya saat itu, ( I am very proud of you, my mom!). Hari demi hari mereka lewati dengan belajar banyak hal mengenai kehamilan, kelahiran, parenting,dan masa menyusui. Mereka berdua sudah sepakat bahwa akan memberikan full ASI untuk kami. Mereka memahami bahwa memberikan ASI itu butuh komitmen tinggi dari sang ayah dan ibu. Dari belajar itu juga, Mereka jadi banyak paham mengapa orang tua yang tidak memberikan ASI full buat anak-anaknya karena butuh komitmen dan pengorbanan yang tinggi bagi kedua orang tua, terutama untuk sang ibu. Banyak godaan yang membuat mereka ragu untuk memberikan ASI apalagi mereka akan punya anak langsung dua. Tapi mereka berdua tetap bergeming dengan tetap berkomitmen untuk memberikan ASI ekslusif buat kami berdua
Singkat cerita, waktu persalinan pun tiba, mereka memilih rumah bersalin yang pro ASI di daerah Jakarta. melalui proses normal alhasil pada tanggal 08 maret 1991 telah lahir kami yaitu Hilda Amalia Sa'bani (Hilda, 2.2kg) dan saya Dinda Amalia Sa'bani (Dinda 2,0kg). Setelah kelahiran masa-masa berat tapi bahagiapun dimulai. Dimana masa berat pertama adalah ketika saya, Dinda Amalia Sa'bani (mengalami kesulitan bernapas karena paru-parunya belum sempurna), dinda tidak bisa melalui proses IMD(Inisiasi Menyusui Dini)karena saya harus langsung dibawa ke ruang NICU. Sedihnya luar biasa, buat mereka karena merasa tidak adil kepada saya dikarenakan Hilda bisa IMD sedangkan sayia tidak. Tapi mereka juga sadar ini semua untuk kebaikan saya juga. Dengan keyakinan mereka untuk tetap berusaha semaksimal mungkin supaya saya harus bisa ASI.
Hari-hari awal pasca kelahiran adalah masa terberat buat mamih saya, sakit bekas operasi tentunya sangat menyulitkan dia untuk mengeluarkan ASI. Perlu diketahui juga buat teman-teman semuanya bahwa sebenarnya yang menyakitkan itu bukan hanya pada proses melahirkannya (baik cesar atau normal) tetapi pasca melahirkan itu jauh lebih berat+menyakitkan buat sang ibu. Hal ini ditambah berat, karena mamih saya harus memberi ASI pada 2 anak sekaligus. Di hari pertama Hilda sudah bisa merasakan minum langsung dari mamih, tetapi saya harus di NICU selama 3 hari, mau tidak mau mamih saya harus memompa ASI dengan bantuan breast-pump yang tentu saja sakitnya luar biasa ditambah dia masih dalam proses penyembuhan pasca oprasi. Lalu sebagai ayah, papah hanya bisa mensupport mamih dan terus berada disamping mamih saat itu. Apalagi saat itu ayah saya hanya di beri cuti 3 hari saja tetapi ayah saya perpanjang menjadi seminggu, kata papah, papah bilang ah bodo amat sama Si Bos, jadi ayah dan suami yang baik itu wajib !Jadi Pegawai yang baik itu sunnah :P haha ). Setetes demi setetes ASI bisa dihasilkan oleh mamih saya dengan diiringi rintihan-rintihan kecil darinya dan Alhamdulillah saya(Dinda) akhirmya bisa merasakan beberapa tetes ASI mamih melalui medium pipet. setelah 3 hari di NICU, kondisi saya sudah stabil sehingga dan bisa keluar bertemu dengan mamih. oia mereka bilang sedih membayangkan saya sendirian berada di ruang NICU selama 3 hari. Cobaan nyatanya belum mau berhenti, setelah saya keluar dr NICU Hilda ternyata kuning (bilirubinnya tinggi, kata dokter ini normal untuk bayi yang lahir dibawah 3 kg) cara menurunkan bilirubinnya hanya dengan pemberian ASI. Semakin banyak ASI yang diminum semakin cepat bilirubin itu dibuang melalui BAB dan ditambah dengan dijemur juga membantu proses penurunan bilirubin, jadi jangan dikasih susu formula ya kalau bayi kuning
Pasca keluar dari rumah sakit adalah saatnya sang ayah atau papah saya berperan besar buat imamih dan kami. Saat di Rumah Sakit ada suster-suster yang melayani segala kebutuhan mamihi disana. Sedangkan di rumah cuma papah dan mamih dan dibantu 1 suster saja. Orangtua saya berprinsip pemberian ASI hanya bisa dilakukan oleh istri sehingga tugas lainnya sebisa mungkin harus mampu papah saya lakukan sendiri seprti mengganti popok, membersihkan BAB, mengganti baju, memberikan ASI Perah jika mereka minta susu berbarengan (maklum kembar dan di bulan awal belum bisa tandem nursing), lau papah saya nyuapin mamih makan karena mamih seakan tidak ada waktu untuk makan karenamamih saya harus benar-benar memberikan FULL ASI hampir tiap satu sejam sekali!satu kenyang satu lagi haus begitu terus( hihi seru ya), kata papah saya bermain dengan kami sebelum dan setelah pulang kantor, dan merelakan waktu tidur untuk terjaga di malam hari alhasil di kantor tidak bisa konsen sama sekali, sekali lagi jadi ayah dan suami yang baik itu wajib Bos!Jadi Pegawai yang baik itu sunnah=). Banyak hal yang sudah tentu harus mereka korbankan, kesenangan-kesenangan saat masih berdua seperti nonton bioskop, ngopi di café, kumpul dengan teman-teman harus mereka kesampingkan bahkan papah saya sampai-sampai saat dirumah tidak lagi menyentuh pekerjaan kantor, total waktunya papah lakukan di rumah untuk digunakan menjadi suami dan ayah yamg baik. Semua inimereka lakukan dan jalankan dengan penuh kesabaran dan kebahagiaan rasa bosan dan stress pasti ada tinggal bagaimana mereka berdua saling mendukung dan menjadi penenang satu sama lain. Peran ayah terbesar saat itu adalah ketika menjaga emosi mamih supaya lebih tabil, senang, dan tenag. Karena ASI tidak akan keluar jika mamih stress, kesel, sakit, dsb jadi disinilah peranayah untuk selalu membuat mamih happy dan bahagia.
Alhamdulillah, setelah melalui masa-masa cukup berat di 2 bulan pertama sekarang kami berdua sudah tumbuh menjadi anak yang sehat berkat lancarnya ASI yang keluar dari sang ibu yang sangat luar biasa. sampai saat ini kami menginjak umur 20 tahun dengan berat badan 47kg(Hilda) dan saya(50kg) Sungguh pencapaian yang luar biasa bagi mereka mengingat kami lahir dengan berat dibawah normal dan sekarang beratnya normal untuk anak seumuran kami hehe .. ini semua berkat ASI mamih. Mereka sadar bahwa tekad mereka bukan perkara gampang butuh pengorbanan dan komitmen tinggi. mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kami berdua. Mereka selalu berprinsip seperi itu karena merekai sadar bahwa seorang anak itu hanya sebentar dalam genggaman orang tuanya-mungkin hanya 25% dari masa hidupnya-setelah itu lepas menjadi mansuia mandiri untuk menjalani hidupnya, jadi apakah di waktu yang singkat ini kita sebagai orang tua tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya?Dan perlu diingat bahwa perkara ASI bukan hanya urusan satu keluarga dengan keturunannya tetapi ini menyangkut masa depan generasi bangsa selanjutnyai. Pemberian ASI terbukti mengurangi resiko anak terhadap penyakit-penyakit mematikan (diabetes, kanker, dsb) dan kecerdasan anak banyak di kontribusi oleh ASI. Jadi saya bisa katakan bahwa masa depan bangsa ini ada di tangan kita para ayah-ayah baru, masa depan dimana disanalah anak-anak kita yang cerdas, sehat, dan kuat yang memimpin bangsa ini di era persaingan global bukan malah anak-anak yang pesakitan dan tidak cerdas sehingga ditindas oleh bangsa lain.
dan sekarang kami berdua tumbuh besar menjadi seorang gadis cantik yang dilahirkan dari orangtua yang luar biasa :)
salam penuh cinta dari kami buah hati mamih dan papap
Hilda dan Dinda
(^_^)b




